Judul Makna Yang Terkandung Dalam Leksikon Proses Pembuatan Batik Selotigo
Oleh Dwi
Astuti
- Pendahuluan
Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya. Salah satu di antaraya adalah batik. Batik merupakan
warisan kebudayaan, banyak macam batik yang dimiliki negara Indonesia, dari batik tulis,
batik cap maupun batik printing.
Batik memiliki beragam motif. Setiap daerah memiliki kekhasan tersendiri
dalam pembuatan batik. Setiap daerah juga
memiliki beragam motif yang berbeda, seperti batik Solo tentunya meiliki ciri khas tersendiri dalam pembuatan motif batik,
begitu juga halnya batik dari Yogyakarta, batik Pekalongan,
bahkan batik-batik yang berasal dari Provinsi
yang ada di Indonesia.dari berbagai daerah di Indonesia ini,
menciptakan berbagai macam motif batik, perbedaan latar belakang, perbedaan
adat istiadat bahkan suku menciptakan motif batik yang sangat kreatif dan ini
menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi Indonesia.
Pembuatan batik memerlukan proses yang sangat panjang. Tahapan-tahapan
yang harus dilalui tidak mudah. Berawal dari persiapan kain
mori kemudian menggambar desain dan tahapan-tahapan lain yang memang
menciptakan kebudayaan yang menjadi ciri khas tersendiri bagi Indonesia. Seiring
berkembangnya waktu, kini batik sudah mulai dikenal dan dikembangkan di
berbagai daerah di Indonesia.
Corak atau motif batik di Indonesia sangatlah beragam. Salah satunya corak atau motif batik yang
berasal dari kota Salatiga yaitu batik Selotigo. Motif batik yang lahir dari sebuah prasasti, dan digagas
oleh Bp. Fatichun dari Jl. Salatiga – Bringin Km.2, Watu Rumpuk, Salatiga.
Batik Selotigo juga biasa disebut batik plumpungan. Nama Selotigo
yang kurang memberikan filosofi, sangat kurang diminati para pecinta batik,
sedangkan nama plumpungan yang berasal dari nama sebuah Prasasti Plumpungan yang sarat dengan nilai filosofi dan sejarah bagi kota Salatiga.
Gagasan dasarnya ialah mengambil dari bongkahan batu tulis yang terdapat pada Prasasti
Plmpungan.
Batik secara etimologi berasal dari kata tik. Batik adalah kain
bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakkan
malam pada kain, kemudian pengolahannya diproses dengan cara tertentu yang
dimiliki kekhasan. Batik berasal dari bahasa jawa yang tersusun atas dua kata
yaitu “amba” yang berarti “menulis” dan kata “titik”. Istilah batik ini merujuk
kepada kain yang corak bahan malam (alat membatik) yang digunakan untuk
menuliskan corak dalam membuat batik. Pembuatan batik pertama menggunakan motif
binatang dan tanaman.
Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan
batik secara keseluruhan. Motif-motif batik juga disebut corak batik atau pola
batik, yang dibagi menjadi dua pola utama, yaitu ornamen dan isi motif batik.
(Susanto, 212)
Batik muncul pada abad XVII yang ditulis oleh nenek moyang bangsa Indonesia
pada daun lontar. Corak yang diciptakan pertama yakni corak binatang dan tumbuhan. Seiring dengan perkembangan zaman, motif
batik terus berkembang dengan membuat
corak awan, batik juga digunakan pada pembuatan relief-relief candi. Pertama kali pembuatan warna pada batik
menggunakan bahan yang terbuat dari alam, dedaunan biji-bijian dan lain-lain.
Teknik membatik dengan menggunakan canting sebagai
alatnya. Canting berfungsi untuk menorehkan malam pada bagian pola di kain
mori. Gunanya pada saat kain dimasukkan ke dalam pewarna, bagian yang tertutup
malam tidak akan terkena warna. Membatik dengan canting ini biasanya disebut
membatik tradisional.
Teknik ini merupakan cara membatik dengan mengikat
sebagian kain kemudian dimasukkan dalam larutan pewarna. Setelah di masukkan ke
dalam larutan pewarna ikatan pada kain dilepaskan sehingga bagian yang terikat
tidak terkena pewarna.
Teknik printing dan cap menggunakan canting cap. Canting
cat merupakan pelat berisi gambar yang timbul. Prosesnya dengan mencelupkan
permukaan canting kedalam cairan malam kemudian dicap pada kain mori dan akan
meninggalkan motif. Keuntungannya proses pemalaman pada teknik ini lebih cepat.
Tidak jauh berbeda dengan batik cap, tetapi warna pada batik
printing lebih mudah pudar dibandingkan dengan batik cap, mengingat
pembuatannya yang sangat cepat dan instan.
Teknik colet juga disebut dengan teknik lukis. Caranya
dengan mewarnai pola batik dengan cara
mengoleskan pewarna pada pola batik dengan kuas. Semakin rumit pola yang digambar oleh pengrajin maka semakin
tinggi pula nilai seni dan nilai jual dari batik colet ini.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
bagaimana sebuah kearifan lokal terjadi, dari proses yang dilakukan saat
pembuatan batik Selotigo ini. Banyak leksikon-leksikon yang muncul pada saat
proses pembuatan batik ini. Berikut beberapa metode yang digunakan dalam
penelitian ini :
Lokasi yang dijadikan objek kajian penelitian adalah Watu Rumpuk, yang
merupakan sebuah desa yang terletak di daerah Bringin Kota Salatiga. Nama desa
tersebut yang dijadikan acuan pembuatan corak batik Selotigo. Watu rumpuk dapat
diartikan sebagai batu yang bertumpuk-tumpuk, sedangkan Selotigo
sendiri berasal dari kata Salatiga. Terdapat pula
pendapat lain yang menganggap bahwa nama corak batik Selotigo berasal dari Prasasti Plumpungan yang berada di Kota Salatiga,
dengan itu batik Selotigo juga disebut sebagai batik Plumpungan.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan
struktural. Pemilihan pendekatan ini dilakukan untuk mendeskripsikan sekaligus
untuk mengangkat struktur mitos cerita asal-usul batik plumpungan atau batik Selotigo.
Strukturalisme bertujuan untuk mengungkapkan struktur cerita yang ada dalam
mitos corak batik Selotigo.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa cerita asal-usul
batik Selotigo yang hidup di masyarakat. data tersebut diperoleh dari informasi
seorang narasumber yang tidak lain pencetus batik Selotigo sendiri. Informasi
yang didapat menjadi akurat dikarenakan diperoleh dari seorang informan yang
memang sudah bergelut langsung dengan lokasi dari
pembuatan batik Selotigo.
Teknik wawancara yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu dengan mewawancarai nara sumber sebagai informan pembuatan batik Selotigo.
Informan yang dipilih tidak lain pencetus corak batik Selotigo yang juga
merupakan satu-satunya pengrajin di Kota
Salatiga.
Setelah data terkumpul kemudian diananlisis dengan model
strukturalisme. Dari data yang diperoleh peneliti menentukan leksikon-leksikon
yang dihasilkan dari cerita asal-usul corak batk Selotigo, dan juga dapat
dilihat dri proses pembuatan batik Selotigo. Peneliti menganalisis makna yang terkandung di dalam leksikon yang ada dalam runtutan proses batik Selotigo.
4.
PEMBAHASAN
Batik Selotigo merupakan batik satu-satu yang berasal dari Kota Salatiga.
Batik ini biasanya disebut juga batik Plumpungan.
Batik Selotigo diciptakan oleh seorang pensiunan beberapa tahun lalu. Beliau
sering mengikuti pelatihan batik sampai akhirnya mempunyai niat untuk
menciptakan batik khas Salatiga. Mengingat baju
dinas pemerintah Kota Salatiga wajib mengenakan batik, mengingat hal itu Salatiga
sendiri tidak mempunyai batik khas.
Berawal dari hal ini Bapak Fatichun membuat batik khas Salatiga.
Batik Motif Waturumpuk Plumpungan dan Batik Motif Selotigo didesain
tahun 2005. Motif ini digambar dari “waturumpuk” yaitu sebuah batu bertumpuk-tumpuk
yang ditemui tidak jauh dari lokasi Prasasti Plumpungan, terletak di pinggir
Jalan Salatiga-Beringin km 3.
Corak watu rumpuk batik Plumpungan diciptakan dari
sebuah prasasti kota Salatiga. Batik Selotigo
merupakan embrio klaster batik di kota Salatiga. Batik Selotigo mempunyai motif
yang unik serta khas yaitu Watu Rumpuk (Batu bertumpuk-tumpuk).Watu rumpuk merupakan salah satu prasasti yang ada di
kota Salatiga dan dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai prasasti yang
sering digunakan untuk bertapa. Watu rumpuk merupakan sebuah susunan batu unik
yang terdiri dari 3 batu besar dan 3 batu kecil.
Batik ini pada setiap motifnya mempunyai ciri-ciri bergambar dua
bulatan berukuran besar dan kecil sedikit lonjong dalam satu kesatuan, bentuk
ini apabila dilihat dari sudut pandang atas menyerupai Prasasti Plumpungan. Corak
batik menyerupai dua bulatan besar dan kecil lonjong. Bulatan ini akan menciptakan beraneka ragam motif batik sesuai dengan keinginan,
kreatifitas dan imajimasi untuk membuat corak atau motif baru dari batik Selotigo.
Dari dua bulatan besar kecil lonjong dapat dikembangkan menjadi beragam
motif. Terdapat motif Batik Plumpungan yang diberi nama sesuai dengan
imajinasi dari benda asalnya, didesain menyerupai bentuk asalnya.
Batik Selotigo sangat khas dengan warna-warnanya yang sangat menarik.
Warna yang di suguhkan berasal dari warna-warna alam seperti hijau, biru, dan
merah. Tetapi tersedia pula warna-warna yang netral atau klasik yaitu warna
coklat tanah dan krem.
Sebelum masuk ke dalam proses pembuatan batik,
berikut beberapa peralatan yang digunakan pada saat pembuatan batik Selotigo :
a.
Wajan cilik
Makna leksikal : Wajan merupakan alat yang
digunakan untuk memanaskan malam. Biasanya wajan ini terbuat dari logam maupun
tanah liat.
Makna kultural : wajan + cilik , wajan
merupakan alat yang digunakan untuk memanaskan malam yang ukurannya kecil.
b.
Anglo
Makna leksikal : Anglo merupakan alat yang
digunakan untuk meletakkan arang sebagai pemanas malam. Anglo ini terbuat tanah
liat. Seperti kompor minyak berbentuk bulat untuk memasak.
Makna kultural : anglo merupakan pawon cilik atau tempat memasak yang
digunakan untuk meletakkan arang.
c.
Tepas
Makna leksikal : Tepas merupakan alat yang
dinakan untuk menghidupkan bara api didalam anglo,atau yang biasa disebut
kipasyang terbuat dari bamboo.
Makna kultural : tepas merupakan kipas pring ( kipas yang terbuat dari
bamboo)
d.
Gawangan
Makna leksikal : gawangan merupakan alat yang
terbuat dari kayu, yang biasanya digunakan untuk meletakkan kain pada saat
proses menggoreskan malam.
Makna kultural : Gawangan merupakan alat yang
digunakan untuk meletakkan kain mori pada saat dilukis dengan malam.
e.
Kowolan
Makna leksikal : Kowolan merupakan alat yang
terbuat dari bamboo. Bentuknya seperti kuas yang diikat dengan kain. Biasanya
digunakan untuk mengalasi bagian yang luas.
Makna kultural : kowolan merupakan kuas yang
digunakan untuk memberikan malam pada bagian yangluas.
f.
Taplak
Makna leksikal : Taplak merupakan kain yang
digunakan untuk melindungi pembatik dari tetesan malam pada saat meniup canting
yang berisi malam. Taplak diletakkan di pangkuan pembatik padasaat menggoreskan
malam ke kain mori.
Makna kultural : taplak merupakan kain yang
dinakan untuk alas pada saat pemalaman agar tidak terkenal tetesan malam.
g.
Cuthik
Makna leksikal : Cuthik merupakan alat yang
digunakan untuk membolak-balikkan arang yang ada di dalam anglo agar bara api
tetap panasatau tidak mati.
Makna kultural : cuthik merupakan alat yang
digunakan untuk membolak-balikkan arang di dalam anglo.
h.
Canting
Makna leksikal : Canting merupakan alat yang
digunakan untuk menggoreskan malam cair ke permukaan kain mori. Yang sudah
dipola. Ada beberapa macam canting yang terdiri dari beberapa ukuran.
Makna kultural : canting merupakan alat yang
digunakan untuk menggoreskan malam pada kain.
i.
Gandhen
Makna leksikal : Gandhen merupakan alat yang
digunakan untuk memukuli kain mori agar tidak kaku dan memudahkan pembatik pada
saat proses pemalaman. Gandhen ini merupakan palu besar yang terbuat dari kayu.
Makna kultural : gandhen merupakan alat yang
digunakan untuk memukul mori.
j.
Malam/lilin
Makna leksikal : Malam atau lilin merupakan
bahan yang digunakan untuk menutup bagian-bagian dari pola batik tertentu yang tidak akan diwarnai pada saat
proses membatik.
Makna kultural : malam merupakan bahan yang
digunakan untuk menutup bagian yang tidak akan diwarnai.
Selain peralatan dan bahan yang sudah di
paparkan diatas, bahan yang paling mendasar pada saat pembuatan batik tulis ini
adalah kain. Bagi pembatik terdapat beberapa jenis kain yang digunakan. Kain
yang digunakan untuk membuat batik tulis tentunya berbeda dengan kain yang
dinakan untuk batik cap. Batik tulis biasanya menggunakan mori muslin (mori
halus). Bahannya halus dan cocok untuk bahan batik tulis, sedangkan batik cap
biasanya menggunakan mori mentah.
Dalam pembuatan batik, terdapat beberapa
tahapan yang biasa dialkukan oleh pengrajin batik. Berikut tahapan-tahapan
pembuatan batik :
1.
Nganji
Makna leksikal : N + Kanji = nganji. Merupakan
kegiatan yang dilakukan untuk memberikan kanji pada kain mori.
Makna kultural : Tahap pembuatan batik yang
pertama adalah nganji. Cara ini dilakukan dengan merendam kain mori selama satu
malam, kemudian dicuci dan direbus menggunakan air kanji.
2.
Dikemplong
Makna leksikal : Di + kemplong = dikemplong.
Dikemplong merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memukuli kain dengan alat yang
disebut gandhen.
Makna kultural : Dikemplongyaitu menggulung
kain kain yang sudah dikanji lalu diletakkan di atas papan
kemudian di pukuli dengan gandhen. Tahap ini dilakukan agar kain lemas
pada saat proses membatik. Proses mengkanji dan mengemplong ini dilakukan agar
nanti padaa saat menggoreskan cairan malam tidak terlalu meresap ke serat kain
dan malam mudah dihilangkan.
3.
Mola
Makna leksikal : N + pola = mola. Mola
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memberikan pola pada kain mori.
Makna kultural
: Tahap ini merupakan tahap memberikan pola kain mori.dengan menggunakan malam.
4.
Ngiseni atau nembusi
Makna leksikal : N + isen + i / N + tembus + i
= ngiseni/ nembusi. Merupakan kegiatan menggambar di balik kainyang sudah
dipola.
Makna kultural : Tahap ini merupakan tahap
penggambaran di balik kain yang sudah dipola menggunakan malam.
5.
Nemboki
Makna leksikal : N + tembok + i = nemboki.
Nemboki merupakan kegiatan yang dilakukan dengan cara menggoreskan malam pada
kain.
Makna kultural : Tahap ini merupakan tahap
menggoreskan malam pada kain bagian yang
dikehendaki tetap berwarna putih.
6.
Nyelup
Makna leksikal : N + celup = nyelup. Nyelup
merupakan kegiatan yang dilakukan dengan mencelupkan kain pada warna putih.
Makna kultural : Tahapn ini
merupakan tahap pemberian warna putih, tahap ini dilakukan dengan
berkali-kali agar warna yang dihasilkan bagus dan putih pekat.
7.
Ngerok
Makna leksikal : N + kerok = ngerok. Ngerok
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menghilangkan malam yang menempel pada
kain.
Makna kultural : Kain yang sudah diberikan warna putin
kemudian dikerok menggunakan cawuk (potongan
kaleng yang ujungnya tajam ). Proses ini merupakan proses menghilangkan lilin
pola agar bisa diberikan warna coklat pada bekasnya.
8.
Mbironi
Makna leksikal : N + biru + i = mbironi.
Mbironi merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memberikan warna biru.
Makna kultural : mbironi merupakan proses memberikan warna biru pada kain. Kain
yang diinginkan tetap bewarna putih dan biru di beri malam dengan canting
khusus, agar pada saat pemberian warna coklat tidak masukke dalam warna putih
dan biru.
9.
Nyoga
Makna leksikal : N + soga = nyoga. Nyoga merupakan kegiatan yang dilakukan
untuk memnerikan warna soga.
Makna kultural : Proses ini merupakan proses
memberikan warna coklat dengan pewarna dari kayu soga.
10.
Nglorot
Makna leksikal : N + lorot = nglorot. Nglorot
merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memebrsihkan malam pada kain.
Makna kultural : Tahap ini merupakan tahap
pembersihan malam pada kain. Cara nglorot yaitu dengan mencelupkan kain ke
dalam air kanji yang mendidih. Hal ini dilakukan agar malam tidak menempel
kembali pada kain.
11.
Ngangin-angin
Makna leksikal : N + Reduplikasi + angin =
nganin-angin. Ngangin-angin merupakan kegiatan yang dilakukan untuk
mengeringkan kain.
Makna kultural : Setelah tahap nglorot selesai,
kain batik dicuci dan di angin-anginkan atau ditiriskan agar kering.
5.1.
Simpulan
Batik Selotigo merupakan batik satu-satunya yang
menjadi cirri khas kota Salatiga. Dengan nama Selotigo mempunyai harapan agar
batik ini mudah dikenal dan laku di pasaran sebagai salah satu ciri khas kota Salatiga.
Ciri khas batik Selotigo yaitu dari motifnya,
yakni batu yang bertumpuk-tumpuk atau
disebut dengan ‘waturumpuk’.
Peralatan yang dibutuhkan pada saat pembuatan batik Selotigo
diantaranya : Wajan cilik, Anglo, Tepas,
Gawangan, Kowolan, Taplak, cuthik, canthing, gandhen, malam. Selain itu kain juga dibutuhkan dalam
pembuatan batik sebagai bahan dasar pembuatan batik.
Proses pembuatan batik Selotigo ini diantaranya yaitu
: nganji, dikemplong, mola,
ngiseni/nembusi, nemboki, nyelup, ngerok, mbironi, nyoga, nglorot,
ngangin-angin.
5.2.
Saran
Seharusnya dari pihak pemerintah lebih bisa
mempromosikan keberadaan batik Selotigo ini, agar masyarakat lebih mengenal
batik Selotigo. Lebih banyak diadakan pameran mengenai motif-motif atau ciri
khas batik Selotigo untuk mengundang minat pembeli demi melestarikan batik Selotigo.
Dari penelitian yang sudah penulis laksanakan belum banyak orang yang mengenal
atau mengetahui bahwa Salatiga mempunyai batik Selotigo. Jadi untuk melestarikannya, seharusnya
pemerintah mengadakan promosi batik Selotigo ini. Selain hal tersebut, dapat dilakukan
pula dengan cara pelatihan bagi penerus pembuat batik Selotigo.
Salumun, dkk. 2013. Kerajinan Batik dan Tenun. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan :
Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar